TITIAN SALAF

"Syiarkan Sunnah, Kikis Bid'ah". Mencukupkan Diri Dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Dengan Mengikuti Pemahaman Generasi Terbaik Para Sahabat Radhiyallahu’anhum

Breaking

Kamis, 26 September 2019

Kamis, September 26, 2019

Menyusuri Jalan Generasi Awal Sebagai Jalan Selamat Dari Kepungan Fitnah


Sungguh indah perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah yang selayaknya digoreskan dengan tinta emas:

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

“Tidak akan menjadikan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya”

Ungkapan ini memberikan sebuah pengertian bahwa yang telah menjadikan mereka baik adalah mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Itulah yang dapat memperbaiki mereka sampai hari qiamat.

Akan tetapi,  sayang, umat Islam berpaling dari jalan  (yang lurus)  menjadi berkelompok-kelompok. Ini karena  mereka telah  melalaikan pilar  yang ketiga  yang berfungsi sebagai pendukung  (untuk memahami) Al Qur'an dan As Sunnah. Pilar  yang  ketiga itu adalah pemahaman  para  salafus shalih terhadap Al Qur'an dan As Sunnah. Dan surat  Al  Fatihah telah  mencakup  pilar-pilar  yang tiga ini dengan penjelasan  yang sempurna.  Allah  berfirman: 

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} [الفاتحة : 6]

Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS, Al Fatihah; 6)

Ayat ini mencakup dua  pilar yaitu  Al Qur'an  dan As Sunnah. 

Dan Firman Allah Ta'ala 

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } [الفاتحة : 7]

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka (QS. Al Fatihah; 7)

mencakup pilar yang ketiga yaitu  mengikuti pemahaman salaf (para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Radhiyallahu’anhum) dalam  meniti jalan  yang lurus ini. Tidak diragukan lagi barangsiapa  berpegang  teguh dengan Al Qur'an dan As Sunnah,  berarti dia  telah  mendapatkan hidayah menuju  jalan yang lurus.  Akan tetapi tatkala pemahaman  manusia terhadap Al Qur'an dan As Sunnah  berbeda-beda, ada yang  benar dan ada yang keliru, atau tidak seragam  maka dibutuhkanlah suatu jalan  keluar. Untuk mengantisipasi bahkan menghilangkan  perbedaan  pandangan  atau  perselisihan  ini maka haruslah ada  pilar yang  ketiga yaitu  mengikuti pemahaman salafus shalih. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberi penegasan kenapa mengikuti pemahaman para sahabat Radhiyallahu’anhum. Allah Azza wa Jalla berfirman:

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة : 100]

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS, At-Taubah; 100)

Dan telah ditegaskan dalam  suatu hadits bahwa  masa (kurun waktu) yang dipergunakan sebagai standar dalam memahami nas adalah  masa tiga generasi terbaik.  Tidak boleh seorangpun menyelisihi mereka  dengan  mengada-adakan pemahaman  yang  baru  yang tidak dipahami oleh  mereka. Hadits yang dimaksud adalah dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ 

"Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka. Kemudian akan datang sebuah kaum yang persaksian seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya" (HR Bukhariy; 5949) 

Maka kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman sahabat Nabi Radhiyallahu’anhum dalam mempelajari Dinul Islam adalah jalan selamat dalam menghadapi gempuran fitnah saat ini. 

Wallahu Ta’ala A’lam. 

Dinukil dengan beberapa penambahan dari buku; "Sittu Durror Landasan Membangun Jalan Selamat (hal 98 - 102)" karangan Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani Hafizhahullah. Penerbit Media Hidayah. 

Senin, 23 September 2019

Senin, September 23, 2019

Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal


Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” (lihat al-'Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 93).
Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata, “Tidak akan diterima ucapan kecuali apabila dibarengi dengan amalan. Tidak akan diterima ucapan dan amalan kecuali jika dilandasi dengan niat. Dan tidak akan diterima ucapan, amalan, dan niat kecuali apabila bersesuaian dengan asSunnah.” (lihat al-Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil munkar karya Ibnu Taimiyah, hal. 77 cet. Dar al-Mujtama')

Imam Bukhari
rahimahullah membuat bab dalam Shahihnya di dalam Kitab al-'Ilmu sebuah bab dengan judul 'Ilmu sebelum berkata dan beramal, berdasarkan firman Allah ta'ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19).' Lalu beliau [Imam Bukhari] berkata, “Allah memulai dengan ilmu.” (lihat Fath al-Bari [1/194])

Imam al-'Aini
rahimahullah berkata, “Artinya: Ini adalah bab yang akan menerangkan bahwasanya ilmu didahulukan sebelum perkataan dan perbuatan. Beliau bermaksud untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu hendaknya diilmui terlebih dahulu, baru kemudian diucapkan dan diamalkan. Sehingga ilmu lebih dikedepankan daripada keduanya secara hakikatnya. Demikian pula ilmu lebih diutamakan di atas keduanya dari sisi kemuliaan. Sebab ilmu adalah amalan hati, sementara hati adalah anggota badan yang paling mulia.” (lihat 'Umdat al-Qari [2/58])

Ibnul Munayyir
rahimahullah berkata, “Beliau -Imam Bukhari- bermaksud menjelaskan bahwa ilmu merupakan syarat benarnya ucapan dan amalan. Sehingga keduanya tidak dianggap tanpanya. Maka ilmu itu lebih didahulukan daripada keduanya, sebab ilmu menjadi faktor yang meluruskan niat, sedangkan lurusnya niat itulah yang meluruskan amalan. Penulis ingin menggarisbawahi hal itu supaya tidak muncul anggapan dari sebagian orang bahwa 'ilmu tidak ada gunanya tanpa amalan' yang menimbulkan sikap meremehkan ilmu dan bermudah-mudahan dalam mempelajarinya.” (lihat Fath al-Bari [1/195])

Kebutuhan Terhadap Ilmu

Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku untuk mendakwahkannya laksana hujan deras yang membasahi bumi. Di muka bumi itu ada tanah yang baik sehingga bisa menampung air dan menumbuhkan berbagai jenis pohon dan tanam-tanaman. Adapula jenis tanah yang tandus sehingga bisa menampung air saja dan orang-orang mendapatkan manfaat darinya. Mereka mengambil air minum untuk mereka sendiri, untuk ternak, dan untuk mengairi tanaman. Hujan itu juga menimpa tanah yang licin, ia tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanam-tanaman. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah kemudian ajaran yang kusampaikan kepadanya memberi manfaat bagi dirinya. Dia mengetahui ilmu dan mengajarkannya. Dan perumpamaan orang yang tidak mau peduli dengan agama dan tidak mau menerima hidayah Allah yang aku sampaikan.” (HR. Bukhari)


Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan segi keserupaan antara hujan dengan ilmu agama. Beliau berkata, “Sebagaimana hujan akan menghidupkan tanah yang mati (gersang), demikian pula ilmu-ilmu agama akan menghidupkan hati yang mati.” (lihat Fath al-Bari [1/215]).
Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, “Di dalam hadits ini juga terkandung pelajaran bahwa tidak akan bisa menerima petunjuk dan agama yang diturunkan Allah kecuali orang yang hatinya bersih dari syirik dan keragu-raguan.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal [1/163])

Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “... Kebutuhan kepada ilmu di atas kebutuhan kepada makanan, bahkan di atas kebutuhan kepada nafas. Keadaan paling buruk yang dialami orang yang tidak bisa bernafas adalah kehilangan kehidupan jasadnya. Adapun lenyapnya ilmu menyebabkan hilangnya kehidupan hati dan ruh. Oleh sebab itu setiap hamba tidak bisa terlepas darinya sekejap mata sekalipun. Apabila seseorang kehilangan ilmu akan mengakibatkan dirinya jauh lebih jelek daripada keledai. Bahkan, jauh lebih buruk daripada binatang di sisi Allah, sehingga tidak ada makhluk apapun yang lebih rendah daripada dirinya ketika itu.” (lihat al-'Ilmu, Syarafuhu wa Fadhluhu, hal. 96)

Allah
ta'ala berfirman (yang artinya), “Apakah orang yang telah mati [hatinya] lalu Kami hidupkan kembali dan Kami jadikan baginya cahaya yang bisa membuatnya berjalan di tengah-tengah manusia seperti keadaan orang yang sama dengannya yang masih berada di dalam kegelapan-kegelapan dan tidak keluar darinya.” (QS. Al-An'am: 122).
Imam Ibnul Qayyim
rahimahullah menerangkan, bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah orang yang dahulunya mati hatinya karena kebodohan lantas Allah hidupkan kembali dengan ilmu, kemudian Allah berikan cahaya iman kepadanya sehingga ia bisa berjalan di tengah-tengah umat manusia (lihat Miftah Daar as-Sa'aadah [1/232])

Ilmu Ada Pada Atsar

Imam al-Auza'i rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ilmu apapun yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah ilmu.” (lihat Da'a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391).

aA-Maimuni
rahimahullah berkata: Ahmad bin Hanbal pernah berpesan kepadaku, “Wahai Abul Hasan! Berhati-hatilah kamu, jangan sampai engkau berbicara dalam suatu masalah yang engkau tidak memiliki imam dalam hal itu.” (lihat Manaqib al-Imam Ahmad oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, hal. 245)

Syaikh Muhammad Sa'id Ruslan
hafizhahullah berkata, “Suatu cacat yang banyak terdapat pada putra-putra umat ini adalah ketika mereka tidak mengikuti prinsip yang telah dijamin keterjagaannya. Padahal, prinsip itu merupakan jalan kenabian. Keterjagaan sesungguhnya hanya ada pada wahyu, bukan pemikiran. Keterjagaan itu hanya ada pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” (lihat Da'a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 376). Beliau juga menegaskan, “Sesungguhnya hakikat jalan kenabian adalah mengikuti atsar/riwayat para pendahulu. Barangsiapa yang menyelisihi jalan ini maka dia tidak berjalan di atas manhaj nubuwwah.” (lihat Da'a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 377)

Allah
ta'ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. an-Nisaa': 80). Allah ta'ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi perintah rasul itu, karena mereka akan tertimpa fitnah atau siksaan yang sangat pedih.” (QS. an-Nuur: 63)

Dari Ubaidullah bin Abi Rafi', dari ayahnya, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jangan sampai aku jumpai ada diantara kalian seseorang yang bersandar di atas pembaringannya sementara telah datang kepadanya perintah diantara perintah yang aku berikan atau larangan yang aku sampaikan lantas dia justru berkata, “Kami tidak tahu. Apa yang kami temukan dalam Kitabullah maka itulah yang kami ikuti!”.” (HR. Abu Dawud, disahihkan Syaikh al-Albani)

Imam Abu Hanifah
rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu tetap berpegang dengan atsar dan jalan kaum salaf, dan jauhilah olehmu segala ajaran yang diada-adakan, karena itu adalah bid'ah.” (lihat Fashlu al-Maqal fi Wujub Ittiba' as-Salaf al-Kiram, hal. 46).

Menempuh Jalan Keselamatan

Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa kaum ahli kitab sebelum kalian berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga; yaitu al-Jama'ah.” (HR. Abu Dawud, dihasankan Syaikh al-Albani)

Dari Abdullah bin 'Amr
radhiyallahu'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Bani Isra'il berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Adapun umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.” Mereka pun bertanya, “Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albani)

Dari al-'Irbadh bin Sariyah
radhiyallahu'anhu, beliau menuturkan: Pada suatu hari tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sholat mengimami kami, kemudian beliau menghadap kepada kami. Beliau pun menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat air mata berlinang dan hati merasa takut. Maka ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah. Apakah yang hendak anda pesankan kepada kami?”. Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan patuh, meskipun pemimpinmu adalah seorang budak Habasyi. Barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku akan melihat banyak perselisihan. Oleh sebab itu berpegang teguhlah kalian dengan Sunnah/ajaranku dan Sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat hidayah. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian! Jauhilah perkaraperkara yang diada-adakan, karena setiap ajaran yang diada-adakan itu bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, disahihkan Syaikh al-Albani)

Imam Abu Ja'far ath-Thahawi
rahimahullah berkata, “Kami mengikuti Sunnah dan Jama'ah, dan kami menjauhi ajaran-ajaran yang nyleneh, perselisihan, dan perpecahan.” (lihat al-'Aqidah ath-Thahawiyah, hasyiyah Syaikh Muhammad bin Mani' dan ta'liq Syaikh Bin Baz, hal. 69 cet. Adhwa' as-Salaf).


Imam Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sunnah adalah jalan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun al-Jama'ah adalah jama'ah kaum muslimin; mereka itu adalah para sahabat, dan para pengikut setia mereka hingga hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.” (lihat Syarh al-'Aqidah athThahawiyah, takhrij Syaikh al-Albani, hal. 382 cet. al-Maktab al-Islami)

Imam al-Ajurri
rahimahullah berkata, “Ciri orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah adalah meniti jalan ini; Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, serta Sunnah para Sahabatnya radhiyallahu'anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Dia mengikuti jalan para imam kaum muslimin yang ada di setiap negeri sampai para ulama yang terakhir diantara mereka; semisal al-Auza'i, Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal, al-Qasim bin Sallam, dan orang-orang yang berada di atas jalan yang mereka tempuh serta dengan menjauhi setiap madzhab/aliran yang dicela oleh para ulama tersebut.” (lihat Da'a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 49)

Imam ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunannya, demikian juga al-Ajurri dalam
asy-Syari'ah, dari az-Zuhri rahimahullah, beliau berkata, “Para ulama kami dahulu senantiasa mengatakan, “Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan.”.” 'Umar bin Abdul 'Aziz rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu berpegang teguh dengan Sunnah, karena ia -dengan izin Allah- akan menjaga dirimu.” (lihat Da'a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 340-341)

Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu'anhu berkata, “Ikutilah tuntunan, dan jangan membuat ajaran-ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” Beliau radhiyallahu'anhu juga berkata, “Sesungguhnya kami ini hanya meneladani, bukan memulai. Kami sekedar mengikuti, bukan mengada-adakan sesuatu yang baru. Kami tidak akan tersesat selama kami tetap berpegang teguh dengan atsar.” (lihat Da'a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 46)

Ubay bin Ka'ab
radhiyallahu'anhu berkata, “Sesungguhnya bersikap sederhana di atas Sunnah dan kebaikan itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan yang benar dan menentang Sunnah.” (lihat Da'a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 46)

Muhammad bin Sirin
rahimahullah berkata, “Para ulama kita dahulu senantiasa mengatakan: Apabila seseorang itu berada di atas atsar, maka itu artinya dia berada di atas jalan yang benar.” (lihat Da'a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 47).

Ahmad bin Sinan al-Qaththan
rahimahullah berkata, “Tidaklah ada di dunia ini seorang ahli bid'ah kecuali membenci ahli hadits. Maka apabila seorang membuat bid'ah niscaya akan dicabut manisnya hadits dari dalam hatinya.” (lihat Da'a'im Minhaj Nubuwwah, hal. 124)

Sufyan
rahimahullah pernah ditanya, “Menuntut ilmu yang lebih kau sukai ataukah beramal?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya ilmu itu dimaksudkan untuk beramal, maka jangan tinggalkan menuntut ilmu dengan dalih untuk beramal, dan jangan tinggalkan amal dengan dalih untuk menuntut ilmu.” (lihat Tsamrat al-'Ilmi al-'Amal, hal. 44-45)

Suatu saat Abdullah bin al-Mubarak
rahimahullah dicela karena sedemikian sering mencari hadits. Beliau pun ditanya, “Sampai kapan kamu akan terus mendengar hadits?”. Beliau menjawab, “Sampai mati.” (lihat Nasha'ih Manhajiyah li Thalib 'Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 58)
*Dikumpulkan dari berbagai sumber
Wallahu Ta'ala A'lam

Jumat, 17 Mei 2019

Jumat, Mei 17, 2019

Malapetaka Akhir Zaman Semakin Merebak. Bagaimana Solusinya?


Banyak  sekali  jalan  keluar  dari  fitnah  dan  kemungkaran  yang  menghadang  kaum  muslimin  pada  zaman ini  yang  tidak  mungkin  disebutkan  satu  per  satu  di  sini.  Namun  kita  akan  sebutkan  satu  di  antaranya, yang  merupakan  solusi  utama  dan  asas  dalam  menanggulanginya.  Siapa  saja  yang  menemui  jalan  ini  ia pasti  termasuk  orang-orang  yang  selamat  dengan  izin  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala. 

Jalan  itu  adalah  menuntut  ilmu! 

Ilmu  merupakan  jalan  keselamatan  dari  fitnah-fitnah  tersebut.  Yaitu  ilmu  yang  benar  sebagai  faktor  utama penjamin  keselamatannya  dari  fitnah.  Setiap  orang  yang  mendapat  karunia  ilmu  maka  ia  berada  di  bawah naungan  cahaya  terang  yang  berfungsi  sebagai  alat  untuk  mengetahui  cara  selamat  dari  kebinasaan. 

Ilmu  yang  dimaksud  di  sini  adalah  ma'rifatullah  (mengenal  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala  dengan  dalil-dalil), memahami  syariat-Nya,  hak-hak-Nya,  hukum-hukum-Nya,  janji-janji  serta  ancaman  siksa-Nya.  Pertama kali  camkanlah  bahwa  engkau  adalah  hamba  Allah.  Engkau  tidak  diciptakan-Nya  secara  sia-sia. Ketahuilah  bahwa  Dia-lah  Rabb  yang  telah  menciptakan  engkau,  dan  Dia-lah  yang  mengatur  engkau. Renungilah  hal  itu  dengan  melihat  tanda-tanda  kebesaran-Nya  baik  yang  tersirat  maupun  yang  tersurat. Yakinilah  bahwa  Dialah  Allah  yang  mengatur  dan  memiliki  engkau,  yang  telah  mencurahkan  nikmat-nikmat-Nya  yang  tiada  terhingga  kepada  engkau. 

Dan  ketahuilah  bahwa  engkau  hanyalah  seorang  makhluk.  Milik  Sang  Pencipta  dan  Pemberi  rezeki.  Engkau  sangat  membutuhkan-Nya  setiap  saat.  Dan  engkau  telah  menikmati  nikmat-nikmat-Nya  yang  terus mengalir  tanpa  henti. 

Lalu  sadarilah  bahwa  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala  telah  membebani  engkau,  yaitu  dengan  perintah  dan larangan-Nya.  Dia  memerintahkan  dan  mewajibkan  engkau  beribadah  serta  melarang  dan memperingatkan  engkau  dari  perkara  haram  supaya  dijauhi.  Perkara-perkara  di  atas  wajib  engkau ketahui.  Pelajari  dan  tekunilah  karena  hal  itu  tidaklah  sulit,  bacalah  Al-Qur'an  dan  kitab-kitab  As-Sunnah seperti  Shahih  Al-Bukhari,  Muslim  dan  lainnya.  Di  sana  pasti  engkau  dapati  pelipur  lara  dan  obat  yang manjur  untuk  setiap  penyakit.  Di  sana  juga  engkau  dapati  kewajiban-kewajiban  ibadah  seperti  shalat, thaharah  (bersuci),  dan  rukun-rukun  Islam  lainnya.  Di  dalamnya  juga  terdapat  keterangan  bahwa  Allah Subhanahu  wa  Ta'ala  menjelaskan  perkara-perkara  mubah  yang  boleh  kita  nikmati  untuk  menyambung hidup,  dan  juga  menjelaskan  perkara-perkara  haram  dan  sejenisnya. 

Jika  hal  itu  sudah  engkau  fahami,  maka  selanjutnya  ketahuilah  bahwa  di  sana  ada  pahala  dan  siksa. Yaitu  bilamana  seorang  hamba  menjaga  kewajiban-kewajiban  ibadah  itu,  niscaya  Allah  akan  memberinya pahala.  Demikian  pula  bila  ia  menjauhi  perkara  haram  semata-mata  melaksanakan  perintah  Allah Subhanahu  wa  Ta'ala,  ia  akan  diberi  oleh-Nya  pahala  yang  besar.  Dan  sadarilah  bahwa  jika  ia melakukan  perkara  haram  itu  atau  menganggapnya  remeh  (menganggapnya  hal  biasa  sehingga dilanggarnya),  niscaya  Allah  akan  menyiksanya.  Apabila  ia  meninggalkan  kewajiban,  maka  Allah  akan menyiksanya  karena  itu.  Dan  siksaan  itu  ada  yang  disegerakan  ada  pula  yang  ditangguhkan, sebagaimana  juga  halnya  pahala. 

Bilamana  semua  itu  telah  engkau  resapi,  apakah  engkau  masih  berbuat  durhaka  kepada  Allah?  Apakah engkau  masih  bisa  terkicuh  lantas  berbuat  maksiat?  Maka  dari  itu,  pelajarilah  aqidah  yang  benar  agar engkau  tidak  tertipu  oleh  juru-juru  dakwah  yang  sesat,  para  ahli  bid'ah,  mu'tazilah  dan  lainnya.  Ketahuilah bahwa  aqidahmu  akan  senantiasa lurus  selama  engkau  mempelajari  aqidah  Ahlus  Sunnah  dan  berpegang teguh  dengannya.  Selanjutnya  setelah  engkau  mengetahui  perintah  dan  larangan  Allah  Subhanahu  wa Ta'ala,  pahala  dan  siksa-Nya,  janganlah  sekali-kali  engkau  terima  ajakan  yang  membuatmu  malas beribadah  dan  menjerumuskanmu  ke  dalam  perbuatan  haram.  Anggaplah  orang  yang  mengajak  itu sebagai  juru-juru  kesasatan  dan  fitnah,  yang  merupakan  cobaan  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala  terhadap orang-orang  jahil. 

Mengetahui  perkara-perkara  tersebut  merupakan  asas  dalam  meraih  keselamatan.  Demikianlah  terapi yang  sangat  gampang  dan  mudah.  Dan  alhamdulillah,  di  negara  kita  ini  sarana  dan  prasarana  menuntut ilmu  mudah  didapatkan. 

Sarana-sarana  itu  sebagai  berikut: 

Majlis-majlis  ilmu 

Banyak  sekali  majlis-majlis  ilmu  yang  diasuh  oleh  para  alim  ulama,  mereka  membacakan  kitab-kitab  ilmu di  sela-sela  waktu  kosong.  Engkau  dapat  mempelajari  aqidah,  hukum,  nasihat-nasihat  dan  ilmu-ilmu lainnya.  Jangan  terlalu  terpaku  dengan  pelajaranmu  di  sekolah  atau  madrasah  yang  hanya  diperoleh  dari guru  saja.  Karena  pada  umumnya  mereka  juga  tidak  memberikan  porsi  materi  pelajaran  yang  memadai. 

Rajin  bertanya 

Banyak  sekali  ulama-ulama  yang  dapat  engkau  hubungi  melalui  telepon  ataupun  bertatap  muka langsung,  supaya  engkau  dapat  memetik  ilmu  yang  bermanfaat  dan  benar  melalui  mereka.

Membaca  buku-buku  yang  bermanfaat 

Banyak  sekali  buku-buku  karangan  ahli  ilmu  yang  telah  dicetak  dan  direvisi.  Sehingga  terjaga  keakuratan dan  kevalidan  penisbatan  buku-buku  itu  kepada  penulis  aslinya.  Mereka  adalah  ulama  pewaris  nabi  yang dapat  dipegang  ucapannya.  Sandaran  mereka  adalah  Al-Qur'an  dan  As-Sunnah.  Engkau  dapat  memiliki buku-buku  tersebut  dan  dapat  engkau  baca  dan  telaah.  Dan  pergunakanlah  kitab-kitab  syarah  yang dapat  dipercaya  dan  steril  dari  bid'ah-bid'ah  untuk  membantu  memahaminya.  Dengan  demikian  aqidah dan  ilmu  yang  kamu  miliki  dapat  terjaga  dan  tidak  ternodai. 

Janganlah  engkau  campur  adukkan  ilmu  yang  benar  dengan  ilmu  yang  menyimpang.  Sebab  di  sana  banyak  sekali  beredar  buku-buku  ahli  bid'ah,  seperti  buku-buku  Syi'ah  Rafidhah,  Al-Asy'ariyah,  Mu'tazilah dan  lain-lain.  Buku-buku  tersebut  ciri-cirinya  sangat  jelas,  cukup  engkau  kenali  penulisnya,  apakah  ia seorang  syi'i  rafidhi  (penganut  paham  Syi'ah  Rafidhah),  atau  seorang  mu'tazili,  asy'ari  atau  yang  lainnya. Jauhilah  buku-buku  mereka  dan  jangan  sekali-kali  engkau  membacanya.  Jika  engkau  tidak  mengetahui buku  yang  harus  dibaca,  tanyakanlah  kepada  para  ulama,  buku  apa  saja  yang  harus  dibaca  dan  buku apa  saja  yang  harus  dijauhi.  Semoga  engkau  menjadi  seorang  yang  alim  tentang  Dienullah,  insya  Allah. Dengan  jalur  ilmu  itulah  engkau  akan  selamat  dari  segala  fitnah  dan  kehancuran.

Note:
Nasihat Syaikh  Abdullah  bin  Abdurrahman  Al-Jibrin Rahimahullah dalam bukunya yang sudah diterjemahkan oleh Yayasan Al-Sofwa dengan judul "MALAPETAKA  AKHIR  ZAMAN  DAN  CARA MENGATASINYA"

Bukunya dapat didownload di sini:

Selasa, 14 Mei 2019

Selasa, Mei 14, 2019

Perdukunan, salah satu malapetaka akhir zaman



Seiring dengan perkembangan teknologi fenomena kesyirikan juga berkembang mengikuti teknologi dan zaman. Banyak bermunculan dukun-dukun era modern berpenampilan bak ustadz dan kiyai memangsa masyarakat yang kurang memiliki bekal Aqidah.

Islam sudah memberikan WARNING, supaya jangan coba-coba mendatangi DUKUN, PARANORMAL, ahli FENG SHUI atau membaca ramalan bintang, horoskop, dan sejenisnya.

Pengecualian bagi mereka yang ingin mendakwahi dan menyadarkan dukun-dukun dan praktek yang semisal. 

Kenapa demikian!? 

Konsekuensi bagi orang yang mendatangi dukun, peramal, paranormal, "orang pintar" dan yang semisal (spt ramalan garis tangan, ramalan zodiak, horoskop, shio, feng shui, - baik media cetak maupun elektronik-) sangat fatal. Apa saja konsekuensinya? 

1. Datang + bertanya = 40 malam shalat tidak diterima 
2. Datang + bertanya + membenarkan = kafir terhadap (Al Qur'an) yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Allah Ta’ala berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

Dari sebagian para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230)

Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Ahmad no. 9171)

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata;

سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ

“Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai dukun-dukun, lalu beliau menjawab: “Mereka (para dukun) bukanlah apa-apa.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Terkadang apa yang mereka ceritakan adalah benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perkataan yang nyata (benar) itu adalah perkataan yang dicuri oleh jin, kemudian dia membisikkannya ke telinga walinya (dukun) lalu mereka mencampuradukkan bersama kebenaran itu dengan seratus kedustaan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762 dan Muslim no. 2228)

Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim membentengi keluarganya dari bahaya kesyirikan dalam bentuk perdukunan, ramal meramal, bimbingan spiritual dari paranormal dan lain-lain. 

Anak-anak juga harus dicegah dari membaca ramalan bintang, horoskop yang sering dimuat di tabloid mingguan, koran, ataupun yang ditampilkan di media elektronik. Walaupun mereka menganggap hal tersebut sebagai hiburan saja. 

Dalil-dalil yang dikemukakan di atas sudah sangat jelas memberikan peringatan, melarang disertai ancaman sekalipun hanya datang (membaca) karena penasaran tanpa bermaksud mempercayainya. 

Semoga Allah Azza Wajalla memberi petunjuk kepada kita semua. 


Sabtu, 04 Mei 2019

Sabtu, Mei 04, 2019

Ketika Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wasallam Dihina Dan Direndahkan


Sesungguhnya orang-orang kafir menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup.

Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang tukang sihir
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) orang gila
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang dukun
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang pendusta
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang yang terputus keturunannya
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) orang yang hina
Mereka mengatakan (bahwa beliau adalah) seorang penyair
Mereka mengatakan … Mereka mengatakan … Mereka mengatakan …

Dan orang-orang kafir terus-menerus menghina dan merendahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu apakah hasilnya? Hal itu tidaklah menimbulkan mudharat bagi beliau sedikit pun …

Pada hari ini, celaan dan hinaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu pun terulang kembali. Demi Allah, demi Allah, dan demi Allah, hal itu tidaklah menimbulkan mudharat bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit pun. Dan hal itu tidaklah menurunkan kedudukan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit pun.

Justru mereka yang menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan dan menyegerakan turunnya hukuman kepada mereka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bukankah Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)” (QS. Al-Hijr [15]: 95)

Dan juga berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakutimu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.”(QS. Az-Zumar [39]: 36)

Janganlah Engkau bersedih, janganlah Engkau khawatir atas apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang jahat itu.

Bukankah sudah cukup bagi kita, yaitu jaminan dari Allah Ta’ala yang senantiasa melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang yang mengolok-olok beliau.

Demi Allah, sesungguhnya perbuatan mereka (orang-orang kafir) itu tidaklah menambah bagi diri kita kecuali kita semakin berpegang teguh dengan Sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan beliau sebagai teladan hidup kita dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sebatas pengakuan (klaim) semata. Dan juga (menjadikan kita semakin istiqomah) untuk berjalan di atas jalan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaksanakan perintah-perintahnya, baik secara lahir dan batin sesuai dengan kemampuan kita.
Kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sebatas ucapan dan klaim semata. (Yaitu) Engkau melaksanakan banyak ajaran (sunnah) Nabi dengan penuh semangat dan antusiasme yang tinggi dalam satu atau dua hari atau satu minggu, dan setelah itu hilang (ditinggalkan) semuanya!!!! [1, 2].

Selesai diterjemahkan di Lab EMC Rotterdam NL, ba’da ashar, 29 Rabiul Awwal 1346

Penerjemah: M. Saifudin Hakim


Kamis, 25 April 2019

Kamis, April 25, 2019

RASULULLAH ﷺ BERSABDA DEMIKIAN, LALU KAU BERPENDAPAT LAIN ?

Taat kepada Allah dan RasulNya merupakan sumber keselamatan, bukan perkataan si A dan si B meskipun beliau-beliau adalah mujtahid. Namun mendahulukan perkataan beliau-beliau dengan meninggalkan perkataan Allah dan RasulNya adalah sebuah musibah besar. Perkataan ulama hanya kita gunakan sebagai alat bantu untuk memahami firman Allah dan sabda RasulNya dengan baik dan benar, bukan malah digunakan sebagai alat untuk membantah perkataan Allah dan RasulNya. Kita hanya diperintahkan untuk mentaati Allah dan RasulNya, bukan perkataan ulama A atau ustadz B yang tidak sejalan dengan aturan Allah dan RasulNya.

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata :
“Nabi berhaji tamattu’, maka Urwah bin Az-Zubair berkata, “Abu Bakar dan Umar melarang tamattu". Ibnu Abbas menimpali perkataannya, “Aku melihat mereka akan binasa, aku menyampaikan kepada mereka “Nabi ﷺ bersabda demikian”, namun mereka berkata “Abu Bakar dan Umar melarang.”
(Jami’ bayan Al-‘Ilmi wa fadlihi 1/129 no 443, Musnad Ahmad no 3121)

Dalam riwayat yang lain beliau berkata :
“Hampir saja menimpa kalian hujan batu dari langit, aku berkata “Rasulullah ﷺ berkata demikian” lantas kalian berkata, “Abu Bakar dan Umar berkata demikian dan demikian.”
(Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani dalam Mushannaf-nya dengan sanad shahih)

Namun ada yang lebih parah lagi, yaitu orang-orang yang membantah hadits shahih dikarenakan hadits tersebut tidak diterima oleh ilmuwan kaum kuffar.
Ada orang yang menolak kandungan hadits lalat karena isi hadits tersebut tidak sejalan dengan perkataan seorang dokter barat. Subhanallah..

Berkata Al-Humaidi :
“Kami sedang bersama Imam Asy-Syafi’i, lalu datanglah seseorang dan bertanya tentang suatu permasalahan. Maka As-Syafi’i berkata, “Rasulullah ﷺ telah memutuskan permasalahan ini dengan hukum demikian dan demikian”. Orang itu berkata kepada Imam As-Syafi’i, “Bagaimana menurut pendapat Anda?”, maka Imam As-Syafii berkata,
“Subhanallah, apakah engkau sedang melihatku di gereja ?!, apakah engkau sedang melihatku di tempat ibadah orang-orang yahudi ?!, apakah engkau melihat di pinggangku ada zunnar (sabuk yang dipakai oleh orang-orang Nasrani) ?!. Aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah ﷺ memutuskan perkara ini dengan hukuman demikian dan demikian lantas engkau berkata “Bagaimana menurut pendapatmu ?”.
(Siyar A’lam An-Nubala’ 10/34 dan Hilyatul Auliya’ 9/106)

Dari Abdullah bin Mugoffal berkata : 
"Bahwasanya Nabi ﷺ melarang khadzf (mengutik dengan kerikil tatkala berburu untuk melukai hewan buruan) dan Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya khadzf (kutikan) itu tidaklah menghasilkan hewan buruan, juga tidak mematikan musuh, namun hanya membutakan mata dan mematahkan gigi”. Orang itupun berkata kepada Abdullah, “Memangnya kenapa dengan khadzf ?”, maka Abdullah berkata, “Saya menyampaikan kepada engkau hadits Rasulullah ﷺ lalu engkau berkata demikian ?, Demi Allah saya tidak akan berbicara denganmu selamanya!.”
(HR. Bukhari no 5479 dan Muslim 1954)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata :
“Hadits ini menunjukan akan bolehnya memboikot orang yang menyelisihi sunnah meninggalkan berbicara dengannya, dan hal ini tidak termasuk dalam larangan dari memboikot (saudara sesama muslim) lebih dari tiga hari, karena larangan tersebut hanyalah jika berkaitan dengan pemboikotan karena perkara pribadi.”
(Fathul Bari 9/753)

Dari Salim bin Abdillah, bahwasanya Abdullah bin Umar berkata :
Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 
“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian pergi ke mesjid-mesjid jika mereka telah meminta izin kepada kalian”. 
Lalu berkatalah Bilal bin Abdullah bin Umar (putra Abdullah bin Umar), “Demi Allah kami akan melarang mereka (ke mesjid)”.
Maka Abdullah bin Umarpun menghadap kepadanya lalu mencelanya dengan celaan yang sangat keras yang saya sama sekali tidak pernah mendengar ia mencela seperti itu, lalu berkata, “Saya mengabarkan kepadamu hadits Rasulullah ﷺ lantas engkau berkata “Demi Allah kami akan melarang mereka ?”
(HR. Bukhari no 865)

Dalam satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim فَضَرَبَ فِيْ صَدْرِهِ “Maka Abdullahpun memukul dadanya.”
(HR. Muslim no 442)

Imam Nawawi berkata : 
“Hadits ini menunjukan hukuman terhadap orang yang protes terhadap sunnah Nabi ﷺ dan yang membantah sunnah dengan pemikirannya. Hadits ini juga menunjukan (bolehnya) hukuman seorang bapak kepada anaknya walaupun sang anak telah dewasa". 
(Al-Minhaj syarh Shaihih Muslim 4/384)

Dari ‘Ato bin Yasar :
"Ada seseorang yang menjual sepotong (sebongkah) emas atau perak dengan harga yang lebih berat dari berat bongkahan tersebut. Maka Abu Darda’pun berkata kepadanya, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ berkata (Dilarang dari yang seperti ini kecuali sama beratnya) antara emas atau perak yang di jual (di tukar) dengan perak atau emas yang di jadikan sebagai pembayar). Orang tersebut berkata, “Menurut saya tidak mengapa”. Maka Abu Darda’pun berkata kepadanya, “Siapa yang menghalangiku dari orang ini ?, aku sampaikan kepadanya hadits Rasulullah ﷺ lantas dia menyampaikan kepadaku pendapatnya (yang menentang hadits). Saya tidak akan tinggal di tempat yang kamu berada di situ.”
(Dikeluarkan oleh Ibnu Battoh di Al-Ibanah no 94)

Dari Al-A’roj berkata : 
“Saya mendengar Abu Said Al-Khudri berkata kepada seseorang, “Tidakkah engkau mendengarkan perkataanku?, aku sampaikan kepadamu hadits Rasulullah ﷺ bahwasanya ia bersabda (Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar atau dirham dengan dirham kecuali jika sama sama berat timbangannya, dan janganlah kalian menjualnya dengan tidak kontan), kemudian engkau berfatwa dengan fatwamu (yang menyelisihi hadits) ?. Demi Allah kita tidak akan berada di bawah satu atap selama hidupku kecuali di mesjid.”
(Dikeluarkan oleh Ibnu Battoh di Al-Ibanah no 95)

Abul Husain At-Thobsi berkata :
“Saya mendengar Abu Sa’id Al-Ashthikhri berkata dan tatkala itu datang seseorang kepadanya dan bertanya kepadanya, “Apakah boleh beristinja’ dengan tulang ? maka ia (Abu Sa’id) menjawab, “Tidak boleh”. Orang itu berkata, “Kenapa tidak boleh ?”, ia berkata, “Karena Rasulullah ﷺ bersabda, “Dia adalah bekal (makanan) saudara-saudara kalian dari golongan jin”. Orang itu menimpali, “Bukankah manusia lebih mulia daripada jin ?” ia berkata, “Tentu manusialah yang lebih mulia”. Orang itu berkata, “Jika demikian, lantas mengapa boleh beristinja’ dengan air, padahal air adalah minuman manusia ?”, iapun menerjang orang itu dan memegang lehernya dan berkata “Wahai zindik (munafik), engkau menentang sunnah Nabi ﷺ ?. Lalu ia (Abu Sa’id) mencekik orang itu, kalau tidak segera saya cegah mungkin ia telah membunuh orang itu.”
(Madarijus Salikin 1/334)

Berkata Salim bin Abdillah :
“Aku sedang duduk bersama Ibnu Umar di masjid tiba-tiba datang seseorang dari penduduk negeri Syam, lalu dia bertanya kepada Ibnu Umar tentang umrah bersama haji?, maka Ibnu Umar berkata, “(Ini adalah perkara yang) baik dan bagus”. Orang itu berkata, “Tapi ayahmu (yaitu Umar bin Al-Khottob) dulu melarang perkara ini?”. Ibnu Umar berkata, “Celaka engkau, jika ayahku telah melarang perkara ini dan perkara ini telah dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ dan telah memerintahkannya maka perkataan ayahku yang kau pegang ataukah perintah Nabi ﷺ ?!”. Orang itu berkata, “Perintah Nabi”. Ibnu Umar lalu berkata, “Menyingkirlah dariku!!”.
(Diriwayatkan oleh At-Thohawi dalam Syarh Ma’anil Atsar 1/372 dari maktabah dan Abu Ya’la pada musnadnya 3/1317 dengan isnad yang jayyid, para perawinya tsiqoh)

Umar bin Khottob telah memberi hukuman pedang kepada orang yang mendahulukan pendapatnya dari pada hadits Rasulullah ﷺ dengan berkata, “ini adalah pendapatku”.

Ya Allah…
Bagaimana jika Umar melihat apa yang kita lihat sekarang ini ?

Jika Umar menyaksikan musibah yang menimpa kita berupa sikap mengedepankan pendapat si fulan dan si fulan dari pada perkataan Nabi ﷺ yang terjaga dari kesalahan ?

Bagaimana jika Umar melihat penentangan orang-orang yang menampilkan pendapat-pendapat mereka dan lebih mengedepankan pendapat dan pemikiran mereka daripada perkataan Rasulullah ﷺ ?

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

Ust DR. Firanda Andirja, MA. حفظه الله تعالى

Kamis, April 25, 2019

Masbuk: Ketika Mendapati Imam Sedang Sujud, Apakah Ikut Sujud atau Menunggu Imam Berdiri?



Soal

Jika seseorang masuk masjid (untuk shalat jama’ah) dan imam sedang sujud, apakah dia ikut imam sujud atau menunggu imam berdiri?

Jawab

Alhamdulillah

Jika seseorang masuk masjid dan imam sedang shalat, maka dia harus ikut imam sebagaimana posisi imam tersebut, baik imam sedang berdiri, rukuk, sujud atau duduk antara dua sujud. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah (radhiyallahu ‘anhu), telah mengatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

( إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ)

"Jika kalian datang untuk menunaikan shalat, sedangkan kami dalam keadaan sujud, maka ikutlah bersujud, dan janganlah kalian menghitungnya satu raka'at, dan barangsiapa mendapatkan ruku', berarti dia telah mendapatkan shalat (satu raka'at -pent)." Hadits riwayat Abu Dawud, 893; dihasankan oleh al-Albaani dalam Sahih Abi Dawud.

Telah diriwayatkan bahwa Abu Qataadah (radhiyallahu ‘anhu) berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

(إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا )

“Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah." HR Al-Bukhari, 635.

Al-Haafiz Ibn Hajar (rahimahullah) mengatakan di dalam Fathull-Bari, 1/118: Kutipan ini sebagai bukti bahwa disunnahkan untuk mengikuti imam apapun posisi imam yang dia temukan.” Selasai kutipan.

Telah diriwayatkan bahwa Mu’adz ibn Jabal berkatad: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

(إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ )

"Jika seseorang diantara kalian pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah lalu kalian mendapati imam sedang melakukan suatu gerakan dalam shalat, hendaknya ia langsung mengikuti gerakan imam." HR Al-Tirmizi, 591; dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Sahih Al-Tirmizi.

Inilah Sunnah yang berkaitan dengan seseorang yang masuk masjid dan mendapati imam sedang shalat, berdasarkan bukti-bukti yang telah disebutkan.

Ibn Hazm (rahimahullah) meriwayatkan bahwa ulama berijma’ (bersepakat) dalam hal ini. Dia mengatakan di dalam Maraatib al-Ijmaa’ (hal. 25): Mereka berkata: Jika seseorang datang dan imam telah melakukan shalat beberapa rakaat baik sedikit ataupun banyak dan tidak tersisa kecuali salam, dia mesti mengikuti imam dan melakukan hal yang sama sebagaimana yang imam lakukan, kecuali dia memutuskan untuk mendapatkan (shalat) jamaah di masjid lain. Selesai kutipan.

Ibn Qudaamah berkata dalam Al-Mughni (2/184):

Disunnahkan bagi seseorang yang mendapatkan imam dalam posisi apapun untuk mengikutinya, walaupun (rakaat) itu tidak akan dihitung baginya. Selanjutnya beliau mengutip beberapa hadits seperti yang disampaikan di atas. Selanjutnya beliau mengatakan: Inilah yang seharusnya dilakukan menurut ulama, yang mengatakan: Jika seorang laki-laki datang dan imam sedang sujud, maka ia sujud tapi rakaat tersebut tidak dihitung baginya. Sebagian dari mereka mengatakan: mungkin pada saat dia mengangkat kepalanya, dia akan diampuni. Selesai kutipan.

Ada beberapa orang, ketika mereka masuk masjid dan mendapati imam sedang sujud atau duduk antara dua sujud, mereka tidak mengikuti imam sampai imam berdiri untuk rakaat kedua atau sampai mereka tahu imam membaca tasyahhud, lalu mereka duduk bersama imam. Orang seperti ini menghalangi dirinya sendiri dari mendapat pahala sujud, dan juga bertentangan dengan dalil-dalil yang telah disampaikan di atas.

Disebutkan di dalam Tuhfat al-Ahwadhi (2/199): Kerjakan seperti yang Imam kerjakan, yaitu, Ikutilah imam apakah dia berdiri, rukuk atau yang lainnya. Dia tidak harus menunggu imam berdiri seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Selesai kutipan.

Lihat: Ahkaam Hudoor al-Masaajid, hal. 138-139, oleh Shaikh ‘Abdullah bin Salih al-Fawzan.

Para ulama dari Al Lajnah Da’imah (Komite Tetap yang Bertanggungjawab Mengeluarkan Fatwa) ditanya tentang seseorang yang masuk masjid ketika imam pada rakaat terakhir. Apakah dia mengikuti jamaah tersebut atau menunggu sampai mereka selesai?

Mereka menjawab:

Apa yang dianjurkan dalam situasi Anda adalah bergabung dengan mereka. Apa pun yang Anda dapatkan, shalat bersama mereka, dan apa pun yang Anda lewatkan, sempurnkanlah. Jika Anda bergabung dengan mereka setelah mereka berdiri dari rukuk di rakaat terakhir, maka bergabunglah dengan mereka dan sempurnakan (shalat) rakaat yang tertinggal setelah imam mengucapkan salam. Selanjutnya mereka mengutip dalil-dalil dari haditis yang disebutkan di atas.

(Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdul Razzaq ‘Afifi, Abdullah bin Qa’ud, ‘Abdullah bin Ghadyan.)

Para ulama dari Al Lajnah Da’imah (Komite Tetap yang Bertanggungjawab Mengeluarkan Fatwa) juga ditanya: Manakah yang lebih baik apabila seseorang memasuki masjid dan imam sedang membaca tasyahhud akhir - haruskah dia bergabung dengannya dalam tasyahhud atau lebih baik menunggu beberapa orang lain datang sehingga mereka dapat shalat bersama?

Mereka menjawab:

Lebih baik baginya untuk bergabung dengan imam, karena makna umum hadits: "Apa pun yang Anda dapatkan, shalatlah, dan apa pun yang Anda lewatkan, sempurnakanlah."

(Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdul Razzaq ‘Afifi, Abdullah bin Qa’ud)

Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, 7/312-323. 

Wallahu Ta'ala A'lam